Home » » CANDI IBU MAJAPAHIT (1)

CANDI IBU MAJAPAHIT (1)

Written By krisna on Rabu, 04 Mei 2011 | 02.08

Majapahit mempersatukan Nusantara, Majapahit mengangkat derajat bangsa, Majapahit banyak dirindukan kemunculannya kembali.

"Yang Maha mencipta, Maha memelihara, Maha mengakhiri, sujudku setunduk-tunduknya, semoga sirna segala rintangan yang menghadang jalan"

Tersebutlah istilah Candi Ibu Majapahit, yang banyak di gembar-gemborkan oleh Majapahit-Bali beserta pengikut-pengikutnya yang cukup fenomenal dan menarik untuk diulas secara mendalam dan mendetil tentang kebenarannya, agar tidak lagi bersifat menyesatkan.
Mendengar istilah Candi Ibu Majapahit, muncullah dalam benak kita suatu pertanyaan yang bersifat logis, yaitu "Siapakah sebenarnya Ibu Majapahit tersebut ?".

Baiklah kita ulas secara perlahan, mendetil, dan satu persatu dengan tujuan meluruskan anggapan-anggapan atau klaim-klaim yang tidak benar serta patut diragukan kebenarannya.
Kerajaan Majapahit, sebagai kelanjutan dari kerajaan Singosari, didirikan oleh Nararya Sanggramawijaya yang memiliki nama penobatan Sri Kertarajasa Jayawardhana. Beliau memiliki empat orang isteri yang merupakan puteri-puteri raja Kertanegara (raja Singosari akhir), yang menurut kakawin Negarakertagama dalam pupuh XLV/2 dan pupuh XLVI/1 adalah Sang Parameswari Tribhuwana, Parameswari Mahadewi, Prajnyaparamita Jayendradewi dan Gayatri yang digelari Rajapatni. Berikutnya, beliau memiliki satu isteri lagi yang berdarah Melayu, bernama Dara Petak (selir) yang dalam kakawin Negarakertagama pupuh XLVII/2 disebutkan sebagai Indreswari yang merupakan ibu Sang Raja Putera Jayanegara (raja Majapahit kedua). Dari perkawinan beliau dengan Gayatri melahirkan keturunan dua orang puteri yang menurut kakawin Negarakertagama pupuh XLVIII/1 disebutkan sebagai Rani di Jiwana (yang pertama) dan Rani Daha (yang bungsu). Rani di Jiwana adalah Tribhuwanottungadewi Jayawisnuwarddhani (raja Majapahit ketiga), sedangkan Rani Daha adalah Rajadewi Maharajasa.

Dari fakta geneologis di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya, yaitu bahwa yang dapat disebut sebagai Ibu Majapahit adalah " dua orang isteri " Sanggramawijaya, yang pertama adalah parameswari Gayatri (Rajapatni) puteri raja Kertanegara dan selirnya yaitu Dara Petak (Indreswari), karena dari kedua beliau itulah kemudian muncul raja-raja Majapahit berikutnya yang secara berturut-turut adalah Jayanegara (memerintah dari tahun 1309 - 1328) yang kemudian dilanjutkan oleh Tribhuwanottunggadewi (memerintah dari tahun 1328 - 1350).

Jika kita tinjau dari sisi status isteri-isteri Sanggramawijaya, maka yang pantas disebut sebagai Ibu Majapahit adalah Gayatri (Rajapatni) yang nota bene berstatus parameswari atau isteri sah Sanggramawijaya. Beliau meninggal di sekitar tahun 1350 M, sebagaimana ternyata secara eksplisit dalam kakawin Negarakertagama pupuh LXIII/2, yang berbunyi : " .. atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, supaya pesta serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda (Hayam Wuruk) di istana pada tahun saka bersirah empat (1284 S) bulan Badrapada ....". Upacara serada adalah merupakan upacara untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya keluarga raja, dengan demikian dapatlah dianalogikan bahwa Sri Rajapatni (Gayatri) telah meninggal pada tahun 1272 S atau tahun 1350 M. Pada akhir masa hidupnya beliau menjadi wikuni (pendeta Budha).

Pertanyaan yang logis dimunculkan adalah : "Di manakah makam beliau ?"


Ditulis oleh : J.B. Tjondro Purnomo ,SH

Bersambung ......................... ke bagian kedua 


1 komentar:

  1. Nah ini dia yang dicari, Dara Petak (hasil dari ekspedisi Pamalayu) adalah merupakan garwa ampil/selir atau indreswari (menurut Negarakertagama) sedangkan Gayatri (puteri bungsu Kertanegara) adalah parameswari. Jadi yang patut disebut sebagai Ibu Majapahit adalah Gayatri yang digelari Rajapatni, dan bukan Dara Petak (selir).

    BalasHapus

Demi kemajuan blog ini, silahkan berkomentar yang bersifat membangun ...